Wartawan Kehormatan

2026.09.08

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro

Pameran 150 Tahun Transformasi Pelabuhan Busan berlangsung dari tanggal 30 Juni hingga 27 September 2026 di Museum Maritim Nasional Korea, Busan.

Pameran 150 Tahun Transformasi Pelabuhan Busan berlangsung dari tanggal 30 Juni hingga 27 September 2026 di Museum Maritim Nasional Korea, Busan.


Pada tanggal 28 Agustus 2026 penulis mengunjungi Museum Maritim Nasional Korea yang berlokasi di Yongdo-gu, Busan.

Pameran yang menampilkan sejarah 150 tahun transformasi Pelabuhan Busan tersebut diselenggarakan dari tanggal 30 Juni hingga 27 September 2026 tanpa dipungut biaya.

Melalui pameran itu, penulis dapat melihat sejarah Pelabuhan Busan dari sebuah pelabuhan kecil hingga berkembang menjadi salah satu pelabuhan penting dunia melalui berbagai dokumen, peta, foto, dan benda bersejarah.

Potret Laporan Investigasi Kapal Asing oleh Dongnae Busa yang mencatat penyelidikan dan respons terhadap tiga kapal Barat yang muncul di Pelabuhan Yongdangpo pada zaman Dinasti Joseon akhir.

Potret Laporan Investigasi Kapal Asing oleh Dongnae Busa yang mencatat penyelidikan dan respons terhadap tiga kapal Barat yang muncul di Pelabuhan Yongdangpo pada zaman Dinasti Joseon akhir.


Pada masa awal pembukaan pelabuhan, Pelabuhan Busan mengalami banyak perubahan sesuai dengan kebutuhan negara-negara asing. Setelah melewati masa pendudukan Jepang dan perang, Pelabuhan Busan kembali dibangun dan berkembang menjadi pelabuhan penting dunia.

Hingga akhir abad ke-19, perdagangan dengan negara asing sangat dibatasi. Heungseon Daewongun yang menjabat sebagai wali pemerintahan Joseon, dengan tegas menolak perdagangan dengan negara-negara Barat dan mendirikan Cheokhwabi (monumen penolakan terhadap perdagangan dengan pihak asing) di berbagai wilayah.

Keberadaan Joseon mulai dikenal lebih konkret oleh dunia Barat melalui catatan Hendrick Hamel pada tahun 1668, diikuti survei La Pérouse terhadap Pulau Jeju pada tahun 1787.

Potret video animasi yang menceritakan sejarah kapal Barat pertama yang berlabuh di Busan, pada tahun 1797.

Potret video animasi yang menceritakan sejarah kapal Barat pertama yang berlabuh di Busan, pada tahun 1797.


Pada tahun 1797 Kapten Inggris William Broughton melakukan pengukuran geografis dan kedalaman perairan di sekitar Pelabuhan Yongdangpo, Busan, serta mencatatnya dalam jurnal pelayaran.

Ketika Broughton memasuki Pelabuhan Yongdangpo, para pejabat Joseon dan pelaut Barat mengalami kesulitan berkomunikasi karena tidak memahami bahasa satu sama lain.

Mereka akhirnya berkomunikasi melalui isyarat, sementara pejabat Joseon memberikan air dan makanan sebelum kapal tersebut melanjutkan perjalanan. Pertemuan singkat ini menjadi salah satu momen awal pertemuan langsung antara Joseon dan dunia Barat di Busan.

Pada akhirnya, melalui penandatanganan Perjanjian Ganghwa pada tahun 1876, Pelabuhan Busan yang telah tertutup selama berabad-abad akhirnya dibuka.

Setelah itu, kapal-kapal asing mulai aktif keluar-masuk dan kantor bea cukai maritim didirikan. Dengan demikian, Pelabuhan Busan memulai langkah pertamanya sebagai pelabuhan modern.

Potret Busan Haegwan pada tahun 1880-an yang merupakan kantor bea cukai Busan yang didirikan pada 1883 untuk memeriksa barang ekspor-impor dan memungut bea masuk.

Potret Busan Haegwan pada tahun 1880-an yang merupakan kantor bea cukai Busan yang didirikan pada 1883 untuk memeriksa barang ekspor-impor dan memungut bea masuk.


Pada tahun 1883 Joseon berhasil memperoleh kembali sebagian hak untuk memungut bea masuk dan melarang ekspor beras. Dan pada tahun yang sama, kantor bea cukai kantor pengawas pelabuhan didirikan di Busan, menandai awal terbentuknya sistem pengelolaan pelabuhan modern.

Di tahun 1884 Joseon menandatangani perjanjian dengan Inggris untuk membuka akses perdagangan dan pelayaran Inggris di pelabuhan terbuka seperti Busan dan Incheon.

Gambar kronologi perjanjian diplomatik dan perdagangan modern yang dijalin Korea dengan berbagai negara asing pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Gambar kronologi perjanjian diplomatik dan perdagangan modern yang dijalin Korea dengan berbagai negara asing pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.


Selama Perang Korea (1950-1953), Pelabuhan Busan menjadi pangkalan logistik pasukan PBB dan setelah perang, fasilitas pelabuhan yang rusak dipulihkan dan sistem operasionalnya ditata kembali.

Pelabuhan Busan terus berkembang menjadi pusat ekonomi nasional dan pelabuhan kelas dunia. Saat ini, Pelabuhan Busan menangani sekitar 24,44 juta TEU muatan setiap tahunnya dan menempati peringkat ketujuh di antara pelabuhan tersibuk di dunia dan merupakan pusat transshipment terbesar kedua di dunia setelah Singapura.

Pelabuhan Baru Busan memiliki teknologi canggih yang diterapkan untuk membuat operasional pelabuhan menjadi lebih cerdas dan efisien serta memiliki sistem ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon.

Potret replika berbagai jenis kapal niaga dan angkutan laut modern yang keluar-masuk Pelabuhan Busan. Foto diambil tanggal 28 Agustus 2026.

Potret replika berbagai jenis kapal niaga dan angkutan laut modern yang keluar-masuk Pelabuhan Busan. Foto diambil tanggal 28 Agustus 2026.


Berdasarkan data 2024, kapal kontainer mendominasi aktivitas Pelabuhan Busan dengan 557 kapal, diikuti tanker minyak, kapal penumpang dan pesiar, kapal pengangkut mobil, serta bulk carrier.

Kini Pelabuhan Busan telah berhasil menjadi pusat logistik utama di Asia Timur Laut yang mendukung perekonomian Korea yang berorientasi ekspor.

Bagian akhir pameran menyoroti visi masa depan Pelabuhan Busan 150 tahun mendatang. Foto diambil tanggal 28 Agustus 2026.

Bagian akhir pameran menyoroti visi masa depan Pelabuhan Busan 150 tahun mendatang. Foto diambil tanggal 28 Agustus 2026.


Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi penulis untuk memahami bagaimana sejarah Pelabuhan Busan tidak hanya berkaitan dengan perkembangan ekonomi dan perdagangan, tetapi juga dengan berbagai perubahan politik, sosial, dan sejarah Korea.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait