Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Pada hari Rabu (24/06/2026), penulis berkesempatan menghadiri kuliah umum bertajuk "Karakteristik Struktur Arsitektur Tradisional Korea" yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI).
Acara ini menghadirkan Hafshah Salamah selaku dosen Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Bandung yang memperkenalkan para peserta pada keunikan arsitektur tradisional Korea, yaitu hanok.
Potret Hafshah Salamah saat memaparkan materi yang mengenalkan karakteristik struktur arsitektur bangunan hanok. (Maulia Resta Mardaningtias)
Sebagai rumah tradisional Korea, hanok dirancang dengan prinsip menyatu dengan alam. Desainnya tidak hanya menekankan keindahan visual, tetapi juga berlandaskan pada nilai-nilai budaya masyarakat, seperti keseimbangan yin dan yang, teori lima unsur alam.
Selain itu, pembangunan hanok juga dipengaruhi oleh ajaran fengsui, astrologi, Buddhisme, konfusianisme, dan taoisme.
Tak hanya itu, orientasi tata letak hanok juga memperlihatkan keterhubungan yang erat dengan lingkungan sekitar. Idealnya, gunung berada di belakang bangunan, sementara sungai atau kolam terletak di bagian depan dengan arah yang menghadap ke timur atau selatan agar pencahayaan lebih optimal.
Hingga kini, arsitektur hanok masih dapat dijumpai pada berbagai bangunan, mulai dari rumah tinggal, wihara, istana, hingga gedung pemerintahan.
Dalam paparannya, pembicara menambahkan bahwa preferensi orientasi tempat tinggal yang menitikberatkan pada pandangan dari dalam rumah ke luar juga masih terimplementasikan dalam masyarakat modern.
Hal ini tampak jelas pada rumah-rumah yang langsung menghadap Sungai Hangang yang umumnya memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tanpa pemandangan serupa.
Potret Kampung Hanok Bukchon yang diambil pada November 2023. Meski berfungsi sebagai kawasan tempat tinggal, deretan hanok yang mencerminkan budaya Korea ini juga menjadi salah satu destinasi wisata populer bagi para wisatawan. (Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata)
Selanjutnya, pembicara menjelaskan bagian-bagian pada rumah hanok yang pada masa lampau ditinggali oleh seseorang yang memiliki status sosial yang cukup tinggi.
Umumnya, bagian-bagian hanok tersebut terdiri dari haengnangchae, bangunan yang menyatu dengan gerbang utama dan digunakan sebagai tempat tinggal pelayan. Ada pula sarangchae yang menjadi ruang tamu sekaligus ruang diskusi untuk laki-laki.
Di dalam hanok terdapat pula anchae, bangunan utama yang menjadi ruang privat keluarga, khususnya perempuan, dengan kamar tidur utama, kamar anak, dapur, dan ruang penyimpanan. Terakhir, terdapat sadang, bangunan khusus untuk berdoa kepada leluhur yang biasanya terpisah dari bangunan utama.
Tidak berhenti di situ, bentuk hanok ternyata berbeda di tiap wilayah Korea. Hanok di bagian selatan, utara, dan tengah memiliki ciri khas masing-masing yang dipengaruhi oleh kondisi iklim.
Walaupun Korea memiliki empat musim, tingkat ekstremitas tiap musim berbeda di setiap daerah sehingga memengaruhi desain rumah tradisional tersebut.
Pembicara juga menyoroti variasi atap hanok. Rumah dengan atap pelana sederhana biasanya digunakan untuk lumbung atau tempat tinggal pelayan. Sementara itu, atap pelana yang berpadu dengan bentuk limas lebih sering ditemukan pada bangunan penting, seperti istana dan wihara.
Potret bangunan kafe bergaya hanok di Hwangnidan-gil, Gyeongju, yang penulis abadikan pada November 2023. (Maulia Resta Mardaningtias)
Material utama bangunan hanok adalah kayu pinus. Berbeda dengan di Indonesia, kayu pinus di Korea lebih tahan lama karena tidak ada rayap. Penurunan kualitas bangunan lebih banyak disebabkan oleh perubahan musim yang ekstrem.
Selain itu, hanok memiliki sistem khas berupa ondol atau sistem pemanas tradisional di bawah lantai, dan maru atau lantai kayu terbuka yang membantu sirkulasi udara agar rumah tetap sejuk di musim panas.
Buku-buku terkait arsitektur, seperti Hanok, Korean Traditional Architecture dan Building Hanok Components & Techniques yang menjadi sumber referensi pembicara dalam penelitiannya dapat ditemukan di perpustakaan KCCI. (Maulia Resta Mardaningtias)
Memasuki bagian akhir materi, pembicara menjelaskan dari sudut pandang seorang arsitek mengenai detail struktur hanok, mulai dari pondasi, badan bangunan, hingga atap melengkung. Hanok dirancang agar cahaya matahari dapat masuk di musim dingin sekaligus memberikan keteduhan di musim panas.
Selain itu, ia juga menambahkan bahwa setiap bangunan hanok di Korea biasanya diberi papan nama bertuliskan huruf Hanja, yang mencerminkan harapan serta fungsi dari bangunan tersebut.
Seusai pemaparan, peserta diberi kesempatan untuk bertanya dalam sesi tanya jawab. Dengan antusias, mereka bergantian mengajukan pertanyaan seputar arsitektur hanok, termasuk nilai sejarah dan budaya yang melekat pada bangunan tradisional ini.
Melalui kuliah umum ini, penulis dan peserta lainnya dapat memahami karakteristik arsitektur hanok secara lebih mendalam. Tidak hanya sebagai rumah tradisional, hanok mencerminkan budaya Korea yang menekankan harmoni dengan alam, desain yang natural, serta fungsi yang praktis dan berkelanjutan.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.