Wartawan Kehormatan

2026.06.29

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hanum Nur Aprilia dari Indonesia
Foto: Hanum Nur Aprilia

Festival Danoje Gangneung merupakan salah satu festival tradisional terbesar di Korea. Pada tahun 1967, pemerintah Korea menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional. Kemudian pada tahun 2005, UNESCO memasukkan festival ini ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Tahun ini Festival Danoje Gangneung digelar selama delapan hari pada tanggal 15- 22 Juni 2026 di kawasan Sungai Namdae, Gangneung, Provinsi Gangwoon.

Penulis berkesempatan mengunjungi festival ini pada hari Sabtu (20/6/2026) dan melihat langsung bagaimana tradisi berusia seribu tahun tersebut masih hidup di tengah masyarakat modern.

Festival Danoje Gangneung merupakan festival tradisional Korea berusia lebih dari seribu tahun yang digelar setiap bulan kelima kalender lunar.

Festival Danoje Gangneung merupakan festival tradisional Korea berusia lebih dari seribu tahun yang digelar setiap bulan kelima kalender lunar.


Secara etimologis, Dano merujuk pada hari kelima di bulan kelima kalender lunar. Momen ini menandai berakhirnya musim tanam padi.

Pada masa lalu, masyarakat memanfaatkan masa senggang tersebut untuk beristirahat dan menggelar ritual sebagai ungkapan syukur serta doa untuk hasil panen yang melimpah.

Sejarah Festival Danoje Gangneung tercatat sejak masa Kerajaan Goryeo (918-1392). Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 935 Wang Sun-sik, seorang warga Gangneung, membantu Raja Taejo dalam sebuah penaklukan.

Dalam perjalanan itu, Ia mengadakan ritual untuk roh penjaga Gunung Daegwallyeong. Peristiwa ini menjadi dasar sejarah bagi tradisi Danoje yang bertahan hingga lebih dari seribu tahun.

Tahun ini, festival mengangkat tema "Pulrini, Danoda: Unfolding the Spirit of Dano." Tema ini menggambarkan Dano sebagai waktu untuk memulihkan diri dan ruang bagi pengunjung untuk melepaskan beban pikiran, membersihkan ketidakmujuran, dan mengurangi penat dari kehidupan sehari-hari.

Prosesi Gangneung Dano Gut pada Festival Danoje Gangneung merupakan upacara persembahan yang dilakukan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan.

Prosesi Gangneung Dano Gut pada Festival Danoje Gangneung merupakan upacara persembahan yang dilakukan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan.


Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan yang bisa diikuti pengunjung, seperti upacara teh tradisional, mencuci rambut dengan air bunga iris, hingga membuat kerajinan tangan. Beberapa kerajinan yang populer antara lain menghias gantungan kunci mutiara dan melukis kipas.

Namun, salah satu inti utama festival ini adalah Gangneung Dano Gut. Ritual persembahan kepada para dewa menjadi pusat keseluruhan festival. Inilah yang membedakan Danoje Gangneung dari perayaan Dano di daerah lain.

Selama periode festival, ritual di altar Dano dilaksanakan selama enam hari, dimulai sejak malam hari ketiga bulan kelima kalender lunar hingga hari terakhir acara. Melalui ritual ini, pengunjung dapat melihat berbagai perlengkapan upacara, pertunjukan, serta doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan.

Pameran khusus Danoje: The Art of Unwinding di area Festival Danoje Gangneung menampilkan tiga tahapan simbolis untuk menggambarkan proses pelepasan beban, penyucian diri, dan pemulihan batin.

Pameran khusus Danoje: The Art of Unwinding di area Festival Danoje Gangneung menampilkan tiga tahapan simbolis untuk menggambarkan proses pelepasan beban, penyucian diri, dan pemulihan batin.


Selain itu, untuk merayakan Danoje, warga Gangneung bersama-sama mengumpulkan beras sebagai simbol doa untuk kesejahteraan dan kemakmuran keluarga. Beras tersebut digunakan untuk membuat sinju (minuman suci) dan surichwitteok (kue beras mugwort) yang dipercaya mampu menangkal penyakit musim panas serta mengusir kesialan.

Sinju tidak diperjualbelikan, tidak pengunjung dapat mencicipinya secara gratis bersama kue beras yang dibuat oleh warga Gangneung di Desa Pengalaman Festival Danoje.

Bagi penulis, salah satu bagian paling menarik dari festival ini adalah pameran khusus bertajuk Danoje: The Art of Unwinding.

Pameran ini memperlihatkan bagaimana Danoje menjadi ruang untuk melepaskan beban hidup. Pameran dibagi menjadi tiga bagian, yakni "The Gutpan: A Time of Opening," "Byeoksa: A Time of Purification," dan "Nanjang: A Time of Release."

Salah satu aktivitas dalam pameran khusus Danoje: The Art of Unwinding di Festival Danoje Gangneung adalah memilih satu dari lima warna yang paling menggambarkan kondisi perasaan pengunjung lalu menuliskan dan mengikatnya sebagai simbol untuk mengungkap isi hati dan melepaskan beban batin.

Salah satu aktivitas dalam pameran khusus Danoje: The Art of Unwinding di Festival Danoje Gangneung adalah memilih satu dari lima warna yang paling menggambarkan kondisi perasaan pengunjung lalu menuliskan dan mengikatnya sebagai simbol untuk mengungkap isi hati dan melepaskan beban batin.


Festival Danoje Gangneung merayakan Dano sebagai sebuah tradisi sekaligus ruang bersama bagi masyarakat untuk melepas beban hidup, memulihkan diri, dan mempererat hubungan antarmanusia melalui ritual dan kebersamaan.

Festival ini membuktikan bahwa tradisi lama tidak hanya hidup sebagai warisan masa lalu, tetapi juga pengalaman budaya dan emosional yang tetap relevan di era modern.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait