Penulis: Wartawan Kehormatan
Hanum Nur Aprilia dari
Indonesia
Foto:
Hanum Nur Aprilia
Penulis mengikuti kegiatan mengenal budaya fermentasi tradisional Korea sekaligus praktik membuat gocujang (pasta cabai fermentasi Korea) pada Kamis (18 Juni 2026) di Desa Ekologi Sanchon Myeongwol, Provinsi Gangwon. Berjarak sekitar 30 menit dari pusat Kota Chuncheon, desa ini memiliki lingkungan yang asri, sumber daya hutan yang melimpah, serta hasil pertanian unggulan seperti minyak perilla, bubuk cabai, dan buah aronia.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Nasional Kangwon bagi warga asing yang berdomisili di Chuncheon. Melalui program ini, peserta dapat mengenal lebih dekat budaya pembuatan
jang, yaitu saus fermentasi tradisional yang menjadi salah satu fondasi penting dalam kuliner Korea.
Program pengenalan budaya fermentasi tradisional Korea dan pengalaman membuat gocujang bagi warga internasional di Desa Myeongwol, Chuncheon, pada Kamis (18 Juni 2026).
Acara dibuka dengan penjelasan mengenai budaya fermentasi tradisional Korea dan peran penting
jang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Korea. Tutor menjelaskan bahwa empat jenis utama jang terdiri atas gocujang (pasta cabai),
doenjang (pasta kedelai),
ganjang (kecap), dan
ssamjang (campuran doenjang dan gocujang).
Pada tahun 2024, UNESCO menetapkan pengetahuan, kepercayaan, dan praktik terkait pembuatan jang di Korea sebagai Warisan Budaya Takbenda untuk Kemanusiaan. Penetapan tersebut menjadikan budaya
jang sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO ke-23 yang dimiliki Korea, sekaligus menjadi tradisi kuliner Korea kedua yang memperoleh pengakuan UNESCO setelah tradisi membuat dan berbagi kimci (kimjang) pada tahun 2013.
Bahan-bahan utama untuk membuat gocujang, seperti bubuk cabai, bubuk kedelai fermentasi, dan pemanis alami, tertata di meja peserta.
Dalam sesi kali ini, peserta diajak meramu gocujang menggunakan bahan-bahan yang sebagian besar berasal dari hasil pertanian warga setempat. Bahan yang digunakan antara lain garam, bubuk cabai khusus gocujang, bubuk kedelai fermentasi, air, serta pemanis alami dan bubur beras ketan yang memberikan tekstur lebih lembut. Tutor menjelaskan bahwa air dapat diganti dengan sari apel atau plum untuk menghasilkan cita rasa yang lebih kaya.
Peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Seluruh bahan dicampur secara bertahap, kemudian diaduk dan disesuaikan tingkat kekentalan serta cita rasanya hingga menghasilkan gocujang sesuai selera masing-masing. Setelah selesai, gocujang yang telah diracik dikemas dalam wadah untuk dibawa pulang.
Para peserta berkesempatan meracik jang, saus fermentasi tradisional Korea yang menjadi bagian dari tradisi fermentasi Korea yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Tutor kemudian menjelaskan bahwa cita rasa gocujang akan semakin kaya jika disimpan dalam waktu yang lebih lama. Bahkan, proses fermentasi dapat ditingkatkan dengan menjemurnya selama sekitar dua minggu agar cita rasanya menjadi lebih kaya dan kompleks.
Menurut penjelasan tutor, keberhasilan fermentasi sangat bergantung pada cahaya matahari dan angin. Karena itu, secara tradisional masyarakat Korea menggunakan
onggi, yaitu guci tradisional Korea yang terbuat dari tanah liat berpori dan dianggap sebagai wadah ideal untuk menyimpan
jang.
Dinding tanah liat pada onggi memungkinkan sirkulasi udara secara alami, menjaga suhu tetap stabil, serta membantu menjaga kualitas fermentasi selama proses pematangan berlangsung.
Peserta memasukkan gocujang hasil racikan mereka ke dalam wadah untuk dibawa pulang setelah seluruh proses pembuatan selesai.
Melalui kegiatan ini, penulis mendapatkan pengetahuan langsung mengenai teknik pembuatan pasta fermentasi khas Korea dan memahami bahwa di balik setiap rasa terdapat sejarah panjang, pengetahuan turun-temurun, dan hubungan erat antara manusia dengan alam yang terus dijaga hingga kini.
sofiakim218@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.