Penulis: Wartawan Kehormatan Hanum Nur Aprilia dari Indonesia
Foto: Hanum Nur Aprilia
Penulis berkesempatan mengikuti lokakarya pembuatan stempel tradisional Korea pada hari Kamis (11/6/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Universitas Nasional Kangwon untuk memperkenalkan seni kerajinan tradisional Korea bernama jeongak kepada mahasiswa internasional yang tinggal di Kota Chuncheon, Provinsi Gangwon.
Bahan-bahan yang dipersiapkan dalam lokakarya pembuatan stempel tradisional Korea di Kota Chuncheon, Provinsi Gangwon, pada Kamis (11/6/2026).
Lokakarya diawali dengan pengenalan jeongak, sebutan untuk seni pembuatan stempel ukir tradisional Korea. Pada masa lampau, masyarakat tidak hanya mengukir nama, tetapi juga kalimat atau ungkapan yang memiliki makna khusus.
Jeongak pun berkembang menjadi seni yang mengekspresikan identitas dan karakter seseorang dalam ruang kecil berbentuk persegi. Tradisi tersebut masih bertahan hingga kini dalam bentuk stempel buatan tangan yang memuat nama atau kata-kata favorit dengan beragam gaya ukiran.
Dalam seni jeongak, terdapat tiga teknik utama pengukiran, yaitu ukiran positif, ukiran negatif, dan ukiran campuran.
Pada teknik ukiran positif, bagian latar belakang diukir sehingga huruf tampak menonjol dan menghasilkan kesan tegas ketika dicap. Sebaliknya, ukiran negatif mengukir bagian huruf sehingga latar belakang tetap utuh dan cetakan menampilkan aksara berwarna putih yang terkesan halus dan elegan.
Teknik ukiran campuran menggabungkan kedua teknik tersebut untuk menciptakan komposisi yang lebih seimbang dan artistik.
Pengajar menjelaskan bahwa pada masa lalu masyarakat lebih banyak menggunakan teknik ukiran negatif untuk stempel nama. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa nama yang tercetak merah karena teknik ukiran positif menggunakan tinta merah dianggap membawa pertanda kurang baik.
Namun, seiring perkembangan zaman, pandangan tersebut mulai berubah dan ketiga teknik kini digunakan sesuai preferensi masing-masing.
Para peserta lokakarya tampak serius mengukir batu stempel setelah mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan makna di balik seni jeongak.
Setelah sesi pengenalan, peserta dipersilakan berlatih menggunakan stempel latihan dan seperangkat alat ukir yang telah disediakan, seperti pisau ukir, sikat, serta penjepit khusus agar batu stempel tidak bergeser selama proses pengerjaan.
Latihan dimulai dari teknik paling dasar, yaitu mengukir garis lurus. Satu garis harus diukir beberapa kali agar cukup dalam sehingga menghasilkan cetakan yang tebal dan jelas.
Meski tampak sederhana, proses itu ternyata tidak mudah. Bahan stempel yang terbuat dari batu alami memiliki bidang yang tidak selalu rata sehingga terkadang menghambat gerakan pisau ukir.
Bagian yang paling menantang adalah membuat garis melengkung atau lingkaran. Bentuk tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu gerakan, melainkan harus dibentuk dari beberapa goresan kecil yang disambungkan dengan presisi.
Setelah berlatih, peserta mulai membuat desain mereka sendiri. Sketsa terlebih dahulu digambar di atas kertas dan disalin menggunakan kertas transfer sebelum dipindahkan ke batu stempel.
Hasil latihan dasar dan beberapa kali revisi desain penulis yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan perencanaan yang matang.
Selain desain ukiran, penempatan aksara juga menjadi perhatian penting. Tata letak yang tepat akan membuat stempel lebih mudah dibaca, terutama karena stempelkerap digunakan sebagai penanda identitas dalam berbagai dokumen resmi. Penulis sendiri beberapa kali mengubah desain sebelum akhirnya mulai mengukir pada batu stempel yang sesungguhnya.
Pada tahap inilah kesabaran benar-benar diuji. Ukiran yang terlalu dangkal akan menghasilkan aksara yang tipis, sedangkan ukiran yang terlalu dalam dapat membuat garis-garis menyatu sehingga sulit dibaca.
Bagi penulis, proses mencari keseimbangan itulah yang menjadi daya tarik seni jeongak. Ada saatnya seseorang harus tahu kapan berhenti mengukir sebab ketika keinginan untuk terus menyempurnakan hasil mengambil alih, justru ukiran bisa berubah menjadi kurang rapi.
Ketika peserta selesai mengukir, stempel ukiran tersebut dicap pada sebuah kartu nama yang kemudian dihiasi kaligrafi indah karya pengajar sebagai kenang-kenangan.
Para peserta lokakarya memamerkan hasil karya stempel tradisional Korea yang telah selesai diukir.
Mengikuti lokakarya ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi penulis. Selama tinggal di Korea, penulis beberapa kali mengurus dokumen resmi dan melihat pihak Korea menggunakan stempel sebagai tanda identitas, sementara penulis hanya membubuhkan tanda tangan.
Melalui kegiatan ini, penulis tidak hanya berkesempatan memiliki stempel pribadi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memahami lebih dekat salah satu warisan seni kerajinan Korea.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.