Wartawan Kehormatan

2026.06.08

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Audrey Regina dari Indonesia
Foto: Audrey Regina

Selain terkenal dengan kimci, Korea juga terkenal akan kue beras yang biasa disebut sebagai tok. Tok umumnya terbuat dari tepung beras atau tepung ketan dan memiliki tekstur yang kenyal.

Salah satu tok yang terkenal di Korea adalah ssukgaetteok yang bahan dasarnya adalah tanaman bernama ssuk atau lebih dikenal dengan istilah mugwort.

Mugwort yang terkenal dengan warna hijaunya memang dikenal memiliki manfaat yang baik untuk tubuh dan juga kesehatan kulit.

Pada tanggal 3 Juni 2026 penulis berkesempatan datang ke Desa Doraemi di Pulau Ganghwado, Incheon. Di sana penulis belajar langsung cara membuat ssukgaetteok bersama dengan warga lokal.

Salah satu gedung pertemuan yang ada di Desa Doraemi sebagai pusat pertukaran perkotaan-pedesaan.

Salah satu gedung pertemuan yang ada di Desa Doraemi sebagai pusat pertukaran perkotaan-pedesaan.


Desa Doraemi adalah pusat pertukaran perkotaan-pedesaan yang sengaja didirikan untuk mempromosikan pertukaran dan pertumbuhan bersama antara komunitas perkotaan dan pedesaan.

Arti dari namanya sendiri berdasarkan hanja adalah 'pulau indah yang membuat siapa saja ingin mengunjunginya lagi'.

Kedatangan penulis disambut hangat oleh pengelola Desa Doraemi yang kebanyakan sudah berusia lanjut, tetapi masih memiliki semangat dalam bekerja dan membagikan ilmu serta pengalaman yang mereka miliki kepada para pengunjung.

Ketika penulis datang, semua bahan baku utama sudah disediakan, yaitu bubuk mugwort dan air. Penulis hanya perlu mencampurkan air dan bubuk mugwort lalu menguleni adonannya sampai pulen.

Adonan ssukgaetteok yang sudah dicampur dan diaduk sampai pulen.

Adonan ssukgaetteok yang sudah dicampur dan diaduk sampai pulen.


Setelahnya, adonan tersebut diambil secukupnya untuk dibuat menjadi ssukgaetteok yang umumnya berbentuk lingkaran. Namun, pengelola Desa Doraemi yang saat itu juga berperan sebagai instruktur membebaskan penulis untuk membuat dalam bentuk apa saja.

Selain bentuk lingkaran, penulis dan rekan-rekan lainnya juga membuat dalam bentuk lain yang beragam, seperti bintang, hati, dan bunga.

Adonan ssukgaetteok yang dibentuk oleh penulis dan rekan-rekan lainnya.

Adonan ssukgaetteok yang dibentuk oleh penulis dan rekan-rekan lainnya.


Setelah adonan selesai dibentuk, instruktur membantu untuk mengukusnya. Sambil menunggu ssukgaetteok dikukus, penulis menyantap makan siang yang sudah disediakan oleh pengelola Desa Doraemi. Ssukgaetteok yang sudah dikukus matang pun dapat dibawa pulang oleh penulis dan rekan-rekan.

Pengalaman langsung membuat ssukgaetteok di Desa Doraemi menjadi pengalaman yang menyenangkan karena selain berkesempatan untuk mencoba membuat tok sebagai salah satu makanan khas Korea, penulis juga dapat berinteraksi dengan warga lokal di Desa Doraemi.

Ssukgaetteok milik penulis dan rekan-rekan lainnya yang sudah dikukus matang.

Ssukgaetteok milik penulis dan rekan-rekan lainnya yang sudah dikukus matang.



margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait