Wartawan Kehormatan

2026.05.28

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro

Pameran khusus The Sea Crosser diselenggarakan dari tanggal 24 Maret hingga 17 Mei 2026 di Museum Busan.

Pameran khusus The Sea Crosser diselenggarakan dari tanggal 24 Maret hingga 17 Mei 2026 di Museum Busan.


Pada hari Sabtu (16/05/2026), penulis mengunjungi pameran khusus bertajuk The Sea Crossers yang berlangsung sejak tanggal 24 Maret hingga 17 Mei 2026 di Museum Busan.

Pameran tersebut menandai satu setengah abad sejak pembukaan Pelabuhan Busan pertama kali pada tahun 1876 sebagai pelabuhan perdagangan internasional pertama Korea.

Busan sebenarnya telah menjadi kota internasional sejak lama. Waegwan merupakan tempat pada masa Dinasti Joseon (1392-1910) yang digunakan oleh orang Jepang yang datang ke Joseon untuk melakukan perdagangan. Istilah tersebut pun merujuk pada lembaga administrasi yang didirikan di tempat tersebut serta kawasan permukiman orang Jepang.

Waegwan pernah berdiri di berbagai wilayah, tetapi beberapa kali dihapus dan dipindahkan. Pada akhir masa Dinasti Joseon, waegwan hanya terdapat di wilayah yang kini dikenal sebagai Busan sehingga Busan dikenal sebagai kota pelabuhan perdagangan internasional, khususnya antara Joseon dengan Jepang.

Tidak hanya terbuka bagi Jepang, pada Oktober tahun 1797 sebuah kapal asing milik Angkatan Laut Inggris muncul di perairan Busan sehingga mengejutkan masyarakat setempat.

Potret Kapten William Robert Broughton dari Inggris dan ilustrasi Pelabuhan Chosan (Pelabuhan Busan) pada akhir abad ke-18.

Potret Kapten William Robert Broughton dari Inggris dan ilustrasi Pelabuhan Chosan (Pelabuhan Busan) pada akhir abad ke-18.


Kapal tersebut dipimpin oleh Kapten William Robert Broughton yang meminta bantuan karena kekurangan persediaan selama pelayarannya. Penduduk Busan pun menunjukkan keramahan kepada para pendatang asing yang untuk pertama kalinya mereka jumpai dengan membagikan air minum dan kayu bakar secara murah hati.

Pertemuan ini tidak hanya tercatat dalam catatan pelayaran Kapten Broughton, tetapi juga didokumentasikan secara rinci dalam Joseon Wangjo Silleok (Babad Dinasti Joseon).

Lukisan ini menggambarkan Choryang Waegwan di Busan beserta wilayah sekitarnya sekitar 200 tahun yang lalu.

Lukisan ini menggambarkan Choryang Waegwan di Busan beserta wilayah sekitarnya sekitar 200 tahun yang lalu.


Choryang Waegwan merupakan kawasan yang dirancang dengan sangat teratur, berpusat di sekitar Yongdusan yang berada di area jantung Koa Busan. Di bagian timur terdapat kantor perdagangan, sedangkan di bagian barat berdiri tempat penginapan bagi utusan Jepang.

Kawasan ini merupakan kawasan terbatas karena tidak semua orang bisa keluar masuk dengan bebas. Orang Jepang tidak diperbolehkan sembarangan meninggalkan kawasan waegwan dan orang Joseon pun harus mendapat izin terlebih dahulu untuk dapat memasuki kawasan ini.

Potret pembukaan pelabuhan modern baru di Busan.

Potret pembukaan pelabuhan modern baru di Busan.


Pada tahun 1876 Busan menjadi pelabuhan modern pertama yang dibuka di Joseon melalui Perjanjian Ganghwa yang ditandatangani di bawah tekanan Jepang. Busan yang sebelumnya hanyalah sebuah desa nelayan kecil, seketika berubah menjadi gerbang yang menghubungkan Korea dengan dunia.

Sejak saat itu kapal-kapal uap raksasa mulai keluar-masuk pelabuhan. Tidak hanya orang-orang yang berasal dari Jepang dan Tiongkok, orang-orang Barat pun mulai memasuki dan memenuhi Kota Busan.

Catatan harian berjudul Haeeun Illok merupakan warisan budaya berharga yang memperlihatkan suasana Busan sekitar 130 tahun yang lalu.

Catatan harian berjudul Haeeun Illok merupakan warisan budaya berharga yang memperlihatkan suasana Busan sekitar 130 tahun yang lalu.


Kehidupan sehari-hari di Pelabuhan Busan juga dicatat dalam catatan harian milik Min Geonho. Ia merupakan seorang pekerja di kantor yang mengelola Pelabuhan Busan selama sekitar sepuluh tahun sejak tahun 1883.

Catatan harian Min yang berjudul Haeeun Illok merupakan warisan budaya berharga yang memperlihatkan suasana Busan sekitar 130 tahun yang lalu, mulai dari pemandangan kota hingga kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu.

Melalui layar besar, pengunjung dapat melihat iIustrasi perubahan Pelabuhan Busan sepanjang masa.

Melalui layar besar, pengunjung dapat melihat iIustrasi perubahan Pelabuhan Busan sepanjang masa.


Sebagai pelabuhan terbuka pertama di Joseon, Busan menjadi gerbang masuk berbagai peradaban dan teknologi baru. Saat Perang Korea (1950-1953) pecah pun, Busan menjalankan perannya sebagai ibu kota sementara yang menampung banyak pengungsi.

Sejak tahun 1960-an, Pelabuhan Busan berkembang menjadi garda ekspor Korea terdepan sekaligus jantung pertumbuhan ekonominya. Sebagai pelabuhan perdagangan internasional, Busan memainkan peran penting dalam menopang perkembangan ekonomi Korea.

Kini, Pelabuhan Busan telah bertransformasi menjadi pelabuhan pusat yang dinamis di Asia Timur Laut yang menghubungkan dunia melalui jalur maritim.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait