Penulis: Wartawan Kehormatan Audrey Regina dari Indonesia
Foto: Audrey Regina
Film The King's Warden yang dirilis pada bulan Februari 206 telah menyita perhatian lebih dari 16 juta penonton di Korea dan menjadi film kedua terlaris di bioskop Korea hingga saat ini.
Film yang dibintangi Yoo Hae Jin dan Park Ji Hoon tersebut diangkat dari kisah nyata Raja Danjong, raja dinasti Joseon yang meninggal pada usia 16 tahun setelah digulingkan takhtanya oleh pamannya sendiri, Raja Sejo.
Raja Danjong diasingkan dan menghabiskan sisa hidupnya di Cheongnyeongpo, Yeongwol-gun, sebuah daerah di Provinsi Gangwon.
Yeongwol menjadi destinasi wisata yang kian diminati berkat film The King's Warden, terutama untuk menghadiri Festival Budaya Danjong yang telah digelar sejak tahun 1967.
Penulis pun berkesempatan hadir di festival tersebut pada tanggal 25-26 April 2026 untuk memahami sejarah dan kebudayaan terkait Raja Danjong serta melihat lokasi pengasingannya di Yeongwol.
Potret Makam Kerajaan Jangneung yang merupakan makam Raja Danjong di Yeongwol-gun, Provinsi Gangwon.
Dikisahkan dalam The King's Warden, setelah meninggal, Raja Danjong tidak mendapatkan prosesi pemakaman yang layak karena pada saat itu semua orang takut akan Raja Sejo.
Pejabat lokal di Yeongwol, Eom Heung Do, akhirnya memberanikan diri untuk menguburkan Raja Danjong dengan layak meskipun dengan cara yang sederhana.
241 tahun kemudian, pada zaman pemerintahan Raja Sukjong (1698), gelar Raja Danjong yang sempat dilucuti menjadi pangeran akhirnya dipulihkan dan makamnya diakui menjadi makam resmi kerajaan dan dinamai Jangneung.
Kini, Jangneung juga menjadi salah satu dari 40 makam kerajaan Dinasti Joseon yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Keterangan mengenai makam Raja Danjong sedikit berbeda dengan makam kerajaan Joseon pada umumnya karena sebelumnya Raja Danjong sudah pernah dimakamkan secara sederhana.
Puncak dari Festival Budaya Danjong digelar pada tanggal 25 April 2026 melalui reka ulang proses pemakaman kerajaan.
Tak hanya warga lokal, ratusan wisatawan mancanegara pun hadir untuk mengikuti parade prosesi tersebut dengan berjalan sejauh tiga kilometer hingga ke tempat peristirahatan terakhir Raja Danjong.
Selama parade berlangsung, tidak sedikit dari warga lokal yang menyapa dengan hangat dan mengucapkan rasa haru serta terima kasih mereka karena para wisatawan mancanegara telah menunjukkan ketertarikan akan sejarah Raja Danjong.
Suasana ketika parade sedang berlangsung. Para peserta memakai hanbok berkabung sambil berjalan sejauh tiga kilometer sampai ke Makam Kerajaan Jangneung.
Pada hari selanjutnya, festival dilanjutkan dengan berbagai acara kebudayaan, salah satunya adalah reka ulang pernikahan tradisional Korea yang dilaksanakan di daerah Donggang Dunchi.
Selain reka ulang pernikahan tradisional Korea, terdapat banyak stand UMKM lokal yang menyediakan makanan, minuman, kerajinan tangan, serta oleh-oleh khas Yeongwol.
Kipas yang dibagikan kepada peserta untuk dibawa selama parade berlangsung.
Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan baik dan meriah. Festival Budaya Danjong juga menjadi salah satu kesempatan baik untuk mengenalkan pariwisata di Yeongwol, serta budaya dan sejarah Korea.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.