Penulis: Lee Jihae
Foto: Lee Jeong Woo
Video: Park Daejin
Tragedi di layar seolah menembus kabut dan hadir menjadi kenyataan. Film The King's Warden yang dirilis pada Februari 2026 berhasil memikat 16,72 juta penonton dan menempati posisi kedua film terlaris sepanjang masa di Korea. Namun, yang justru lebih menarik perhatian adalah arus kunjungan menuju Yeongwol. Orang-orang kini berbondong-bondong datang ke kota itu untuk menelusuri jejak terakhir Raja Danjong.
Raja Danjong merupakan raja keenam Dinasti Joseon yang bernasib tragis. Takhtanya direbut oleh pamannya, Pangeran Suyang, dan ia mengakhiri hidup pada usia 17 tahun. Setelah hanya tiga tahun menduduki takhta, Danjong dilengserkan dan mengembuskan napas terakhir di tempat pengasingannya di Yeongwol. Kisah hidupnya menjadi salah satu catatan paling memilukan dalam sejarah Joseon.
Jejak sang raja muda yang gugur bahkan sebelum sempat mekar sepenuhnya masih terasa di berbagai sudut Yeongwol hingga kini, lebih dari 570 tahun kemudian.
Mengikuti jejak emosional film tersebut, Korea.net pada tanggal 24 April 2026 menelusuri jalur pegunungan menuju Yeongwol, Gangwon, tempat pengasingan Raja Danjong.
Cheongnyeongpo di Yeongwol, tempat pengasingan yang dipenuhi air mata Raja Danjong. Tiga sisinya terhalang aliran sungai, sementara bagian belakangnya dibatasi tebing terjal yang curam.
Cheongnyeongpo, tempat pengasingan yang menyimpan kepedihan Raja Danjong.
Cheongnyeongpo di Yeongwol, Gangwon, yang menjadi latar utama film tersebut, merupakan "penjara alami". Tiga sisinya, yakni timur, selatan, dan utara, dikelilingi sungai, sementara di sisi barat menjulang tebing curam Yukyukbong. Tanpa perahu penyeberangan, tak seorang pun dapat masuk ataupun keluar dari tempat itu.
Di balik pemandangannya yang indah, tempat tersebut menyimpan kesunyian dan keterasingan yang mendalam. Di sanalah sang raja muda, yang diturunkan statusnya menjadi Pangeran Nosan pada tahun 1457, harus menghadapi kenyataan hidup yang kejam.
Bangunan utama eoso tempat Raja Danjong pernah tinggal berdiri berdampingan dengan deretan bangunan para dayang dan abdi kerajaan (kiri). Patung lilin menggambarkan suasana pada masa itu (kanan).
Di dalam Danjong Eoso—bangunan tempat Raja Danjong pernah tinggal yang sempat hanyut akibat banjir sebelum akhirnya dipugar—kini hanya patung lilin yang menemani kesunyian masa lalu.
Tokoh Eom Heung-do yang muncul dalam film juga merupakan sosok nyata dalam sejarah. Sebagai hojang (pejabat lokal) Yeongwol, ia dikisahkan diam-diam mengunjungi Cheongnyeongpo pada malam hari untuk menyampaikan salam penghormatan kepada Raja Danjong.
Ucapan salam itu seolah masih terasa menggema di telinga, menyatu dengan suara aliran sungai dan desir angin pinus yang mengelilingi Cheongnyeongpo.
Jangneung, makam Raja Danjong yang dipulihkan status kerajaannya pada tahun ke-24 pemerintahan Raja Sukjong (1698). Karena kuatnya penolakan dari para pejabat istana, makam ini dibangun dengan bentuk yang lebih sederhana dibanding makam kerajaan lainnya.
Jangneung, makam Raja Danjong yang dibangun secara sederhana dibanding makam kerajaan lainnya.
Hanya sekitar lima menit berkendara dari Cheongnyeongpo, terdapat Jangneung, makam Raja Danjong. Di antara makam kerajaan Dinasti Joseon, Jangneung menjadi satu-satunya yang berada di Gangwon. Berbeda dari tradisi kerajaan yang umumnya membangun makam di dekat Hanyang, makam ini berdiri sendirian, seolah mencerminkan kesepian kematian sang raja muda.
Baru 241 tahun setelah wafatnya, tepatnya pada tahun 1698, Raja Sukjong memulihkan status kerajaan Danjong dan membangun makam kerajaan untuknya. Namun, karena kuatnya penolakan politik terhadap pemulihan tersebut, kompleks makam itu dibangun dengan sangat sederhana hingga terasa memilukan.
Byeongpungseok, yakni batu pelindung yang mengelilingi gundukan makam sebagai simbol kewibawaan raja, serta nanganseok, pagar batu di bagian luarnya, tidak disertakan. Berbeda dari makam kerajaan lainnya, di Jangneung juga tidak terdapat patung pejabat militer (muinseok). Hanya patung pejabat sipil (muninseok) yang berdiri di sisi sang raja muda.
Di salah satu sudut Jangneung terdapat "Jangpanok", bangunan yang menyimpan tablet penghormatan bagi 268 pejabat yang menunjukkan kesetiaan kepada Raja Danjong. Tempat ini menjadi semakin istimewa karena merupakan satu-satunya makam kerajaan Joseon yang memiliki monumen dan bangunan penghormatan untuk para pejabat setia.
Jangpanok di Jangneung, Yeongwol, jejak kesetiaan kepada Raja Danjong. Tempat ini menyimpan tablet penghormatan bagi 268 pejabat setia yang mempertahankan loyalitas mereka hingga akhir demi sang raja muda.
Akhir hidup Raja Danjong hingga kini masih diselimuti kabut misteri. Sejo Sillok (Catatan Sejarah Raja Sejo) mencatat bahwa Danjong mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, kalangan akademisi umumnya menilai catatan tersebut kurang dapat dipercaya karena ditulis dari sudut pandang pihak yang merebut takhta.
Catatan sejarah lain kemudian menghadirkan versi berbeda. Seonjo Sillok (Catatan Sejarah Raja Seonjo) menyebut seorang pejabat kerajaan membawa racun kerajaan, sementara Sukjong Sillok (Catatan Sejarah Raja Sukjong) dan Noreungsasil—dokumen yang mencatat kematian Danjong—menuliskan bahwa setelah Raja Sejo memerintahkan pemberian racun, seorang abdi istana menghabisi nyawa Danjong.
Di tengah berbagai catatan sejarah yang saling bertentangan, satu fakta yang tetap jelas adalah bahwa Eom Heung-do merupakan orang yang memberanikan diri mengambil dan memakamkan jenazah sang raja. Saat itu, tak seorang pun berani turun tangan karena takut dicap sebagai pengkhianat dan menyebabkan kehancuran tiga generasi keluarganya.
Pada tanggal 27 Juni 2009, dari total 42 Makam Kerajaan Dinasti Joseon, sebanyak 40 makam—termasuk Jangneung—yang berada di Republik Korea resmi terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO, sementara dua lainnya berada di Korea Utara.
Jika ingin merasakan bukan hanya emosi filmnya, tetapi juga beratnya sejarah yang tersimpan di dalamnya, pergilah ke Yeongwol sekarang juga. Di seberang Sungai Seogang yang mengelilingi Cheongnyeongpo, kisah sang raja muda yang telah menunggu lebih dari 500 tahun seolah masih memanggil mereka yang datang.
Upacara ritual untuk Raja Danjong yang digelar pada tanggal 25 April 2026 di Jangneung, Yeongwol, Gangwon. Setiap April, Festival Budaya Danjong diselenggarakan untuk mengenang arwah Raja Danjong dan para pejabat setia yang menunjukkan kesetiaan kepada sang raja. Sejak tahun 2007, rekonstruksi upacara pemakaman kerajaan Dinasti Joseon terus digelar bagi Danjong, yang tidak sempat memperoleh upacara pemakaman kerajaan semasa hidupnya.