Penulis: Charles Audouin
Video: Saluran YouTube resmi Festival Film Dokumenter Internasional DMZ
Festival Film Dokumenter Internasional DMZ (DMZ Docs) ke-18 digelar pada tanggal 10-16 September 2026 di sejumlah bioskop di Paju dan Goyang, Provinsi Gyeonggi.
Sejak pertama kali digelar pada tahun 2009, DMZ Docs berupaya mengubah arena perpecahan dan konflik menjadi ruang dialog serta menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian, rekonsiliasi, dan hidup berdampingan melalui film.
Tahun ini, DMZ Docs mengusung slogan "Peace is not Silent" dan menghadirkan 147 film dokumenter dari 52 negara.
Film-film yang diputar terbagi dalam kategori kompetisi dan nonkompetisi. Kategori kompetisi mencakup Kompetisi Internasional dan Frontier untuk film mancanegara serta Kompetisi Korea. Sementara itu, kategori nonkompetisi meliputi Verite, Docufiction, Essay, dan Expanded.
Sutradara Lee Myung-Se yang menggarap video promosi resmi DMZ Docs, menjelaskan mengenai video tersebut dalam konferensi pers tanggal 18 Agustus 2026 di Chungmu Art Center, Jung-gu, Seoul.
Ia mengatakan, "Trailer ini mungkin terasa agak gelap. Namun, saya ingin mengajukan pertanyaan, bukankah saat ini kita masih perlu tetap terjaga?"
Haje karya sutradara Hwang Yun terpilih sebagai film pembuka. Film ini sekaligus menyoroti nilai-nilai kehidupan, perdamaian, dan kepedulian.
Film tersebut mendokumentasikan selama delapan tahun proses ketika warga Haje, sebuah desa nelayan kecil di Kota Gunsan, Provinsi Jeollabuk, dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat proyek reklamasi Saemangeum dan perluasan pangkalan militer Amerika Serikat.
Hwang menjelaskan latar belakang pembuatan film tersebut dengan mengatakan, "Desa itu begitu terpinggirkan hingga saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang mengetahui keberadaannya."
"Saya menyadari bahwa karena tidak mendapat perhatian media, desa tersebut perlahan menghilang dari peta Korea dan catatan sejarah," tambahnya.
Ia melanjutkan, "Sebagai sutradara film dokumenter yang tinggal di Gunsan, saya merasa tidak mungkin menutup mata atau mengabaikan desa ini."
Che Guevara: The Last Companions karya sutradara Prancis, Christophe Dimitri Reveille, terpilih sebagai film penutup.
Film tersebut menelusuri jejak dan mendokumentasikan kisah para anggota pasukan gerilya pimpinan Che Guevara, tokoh revolusioner yang berperan penting dalam Revolusi Kuba.
Direktur Festival DMZ Docs, Oh Dong-jin, mengatakan, "Menurut saya, Che Guevara merupakan tokoh politik yang perlu diperkenalkan kembali pada masa kini. Karena itu, kami mengambil keputusan berani untuk memilih film ini sebagai film penutup."
Ia menambahkan, "Festival tahun ini menghadirkan banyak suara progresif."
Beragam program khusus juga menjadi daya tarik festival ini. Salah satunya adalah program yang menyoroti 13 karya garapan sutradara Palestina, Kamal Aljafari, selama lebih dari 20 tahun.
Selain itu, sebanyak 15 film dokumenter lingkungan yang mengajak penonton merenungkan hubungan antara manusia dan alam.
Untuk memperingati 140 tahun terjalinnya hubungan diplomatik Korea dan Prancis, festival ini juga akan menayangkan sepuluh film karya sutradara Prancis, Raymond Depardon, yang selama ini menyoroti wajah-wajah manusia serta dunia kerja yang perlahan menghilang.
Sementara itu, Forum DMZ Docs yang digelar selama festival akan membahas berbagai topik, seperti strategi pengembangan film dokumenter Korea ke depan, dokumenter politik, dan dilema boikot budaya.
caudouin@korea.kr