Kebudayaan

2026.08.20



Penulis: Lee Ji Yae
Foto dan Video: Lotte Entertainment

Sebuah mobil van melaju di jalan sambil berderak-derak seakan mesinnya dapat mati kapan saja. Di dalam mobil tersebut terlihat seorang ibu dengan tiga orang anak perempuannya yang mengenakan kaus seragam.

Sekilas mereka berempat tampak seperti sebuah keluarga yang sedang melakukan perjalanan wisata keluarga, tetapi terselip ketegangan yang aneh di antara mereka.

Konferensi pers film The Journey to Gyeongju telah digelar pada tanggal 13 Agustus 2026 di Lotte Cinema World Tower, Songpa-gu, Seoul.

Sutradara Kim Mi-jo yang menulis skenario sekaligus menyutradarai film tersebut hadir bersama para pemerannya, yaitu Lee Jung-eun, Kong Hyo-jin, Park So-dam, Lee Yeon, dan Byun Yo-han.

Mereka membahas film tersebut serta karakter yang mereka perankan masing-masing. Lee Jung-eun dan para pemeran lain telah mendapatkan sambutan hangat dari para penonton mancanegara melalui film Parasite maupun drama When the Camellia Blooms.

The Journey to Gyeongju merupakan kisah balas dendam keluarga yang melakukan perjalanan untuk memperingati hari ulang tahun Gyeongju, sang putri bungsu yang tidak pernah kembali setelah melakukan perjalanan wisata sekolah delapan tahun sebelumnya.

Bahkan sebelum resmi dirilis, film tersebut telah membuktikan kualitas artistik dan daya tariknya melalui undangan dari berbagai festival, seperti Festival Film Internasional Hawaii, Festival Film Internasional Fantasia, dan Festival Film Korea Barcelona.

The Journey to Gyeongju bahkan berhasil meraih penghargaan film pilihan penonton pada Festival Film Korea Florence ke-24.

Film tersebut bergerak menuju satu tujuan, yaitu 'balas dendam'. Sang ibu yang kehilangan putri bungsunya, Oksil, percaya bahwa keluarganya dapat bersatu kembali hanya dengan menuntaskan balas dendam.

Namun, ketiga orang putrinya menyimpan luka dan kepedihan yang berbeda-beda selama delapan tahun terakhir.


Lee Jung-eun menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers film The Journey to Gyeongju yang digelar pada tanggal 13 Agustus 2026  di Lotte Cinema World Tower, Songpa-gu, Seoul.

Lee Jung-eun menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers film The Journey to Gyeongju yang digelar pada tanggal 13 Agustus 2026 di Lotte Cinema World Tower, Songpa-gu, Seoul.


Lee Jung-eun yang memerankan Oksil menyebutkan bahwa 'hasrat membalas dendam yang hampir menyerupai obsesi' sebagai hal yang membedakan karakter tersebut dari peran-peran ibu yang pernah dimainkannya.

Ia mengaku berdiskusi panjang dengan Sutradara Kim mengenai bagaimana keluarga yang semula hidup harmonis akhirnya hancur setelah kehilangan salah satu anggota keluarganya dalam sebuah insiden.

Lee juga berpendapat bahwa meskipun anggota keluarga yang tersisa melakukan perjalanan untuk membalas dendam, masing-masing pasti memiliki pemikiran yang berbeda.

Ia menganggap bahwa Oksil mungkin menganggap perbedaan tersebut sebagai bentuk dari keretakan sebuah keluarga.

Oksil digambarkan tidak pernah melepaskan kaus seragam keluarga bertuliskan 'Ibu' di bagian belakang kausnya, bahkan hingga akhir film.

Kaus tersebut menjadi sarana simbolis yang menggambarkan sosoknya yang tenggelam dalam tekad pembalasan dendam putri bungsunya hingga tidak mampu mengungkapkan perasaannya kepada putri-putrinya yang masih hidup.


Sutradara dan para pemerdan dalam film The Journey to Gyeongju berpose dalam konferensi pers yang digelar tanggal 13 Agustus 2026 di Lotte Cinema World Tower, Songpa-gu, Seoul. Dari kiri ke kanan: Lee Yeon, Park So-dam, Lee Jung-eun, Kim Mi-jo, Kong Hyo-jin, dan Byun Yo-han.

Sutradara dan para pemeran dalam film The Journey to Gyeongju berpose dalam konferensi pers yang digelar tanggal 13 Agustus 2026 di Lotte Cinema World Tower, Songpa-gu, Seoul. Dari kiri ke kanan: Lee Yeon, Park So-dam, Lee Jung-eun, Kim Mi-jo, Kong Hyo-jin, dan Byun Yo-han.


Dongju merupakan putri ketiga dalam keluarga tersebut yang lebih cepat menggunakan tinju daripada berbicara demi keluarganya.

Lee mengatakan, "Saya memandang balas dendam sebagai tindakan melukai orang yang menjadi sasaran sekaligus diri sendiri."

Ia melanjutkan, "Untuk membalas dendam, seseorang juga harus mengatasi penderitaannya sendiri sehingga proses balas dendam sang ibu terasa menyakitkan bagi saya."

The Journey to Gyeongju menarik perhatian karena film tersebut menempatkan karakter perempuan sebagai pusat cerita tanpa membatasinya sebagai drama keluarga semata.

Belakangan ini, narasi yang berpusat pada perempuan terus memperluas cakupannya dari kisah keluarga, pendewasaan, dan pemulihan, ke beragam genre lain, seperti laga, kriminal, dan cerita seru.

The Journey to Gyeongju juga memperlihatkan potensi narasi perempuan dalam berbagai genre dengan memadukan komedi gelap dan laga melalui kisah seorang ibu dan ketiga putrinya yang bersatu untuk membalas dendam.

Film tersebut merupakan film komersial pertama Sutradara Kim yang sebelumnya mendapatkan pengakuan atas kemampuan penyutradaraannya dalam beragam festival film di dalam maupun luar Korea.

Potongan adegan dari film The Journey to Gyeongju.

Potongan adegan dari film The Journey to Gyeongju.


Sutradara Kim menggambarkan The Journey to Gyeongju sebagai kisah keluarga tempat komedi dan tragedi saling bersinggungan.

Film tersebut akan hadir di bioskop Korea mulai tanggal 26 Agustus 2026 dengan menyuguhkan humor yang muncul dari berbagai situasi tak terduga dan aksi medebarkan.


ljyhwa@korea.kr

konten yang terkait