Sutradara Park Chan-wook terlihat sedang berpose dalam sesi pemotretan dewan juri kompetisi Festival Film Internasional Cannes ke-79 pada tanggal 12 Mei 2026 (waktu setempat). (Yonhap News dan EMPICS)
Penulis: Charles Audouin
Video: Saluran YouTube resmi Festival Film Internasional Cannes
"Korea tidak lagi berada di pinggiran perfilman dunia."
Demikian pernyataan sutradara Park Chan-wook, yang tahun ini menjadi orang Korea pertama yang ditunjuk sebagai ketua dewan juri kompetisi utama di Festival Film Internasional Cannes ke-79. Ia menyampaikan pandangannya mengenai perubahan posisi perfilman Korea dalam konferensi pers pembukaan festival pada tanggal 12 Mei 2026(waktu setempat).
Park mengatakan, "Saya pertama kali datang ke Festival Film Internasional Cannes pada tahun 2004. Saat itu, film Korea masih sangat jarang hadir di sini. Baru sekitar 20 tahun berlalu, tetapi banyak perubahan telah terjadi selama periode tersebut."
Ia melanjutkan, "Saya tidak ingin menggambarkan fenomena ini hanya sebagai keberhasilan film Korea hingga akhirnya masuk ke pusat perfilman dunia." Ia menjelaskan, "Pusat perfilman itu sendiri telah meluas sehingga mampu merangkul lebih banyak film dari berbagai negara."
"Sebagai hasil dari perubahan itu, saya pun akhirnya mendapat kesempatan menjadi ketua dewan juri," katanya.
Mengenai film-film karya sutradara, termasuk Na Hong-jin, Yeon Sang-ho, dan July Jung yang diundang tahun ini, Park mengatakan, "Saya senang film-film yang sangat dinantikan bisa diundang." Film terbaru Na Hong-jin berjudul Hope, yang menjadi karya pertamanya dalam 10 tahun terakhir, akan bersaing memperebutkan Palme d’Or bersama 21 film lain di kompetisi utama.
Saat ditanya bagaimana ia akan menonton film-film peserta kompetisi, Park menjawab, "Saya ingin menontonnya tanpa prasangka, tanpa stereotip, hanya dengan rasa antusias sambil menantikan film yang mampu mengejutkan saya."
Namun, ia menambahkan, "Setelah pemutaran selesai dan memasuki sesi penjurian, saya akan menilainya sebagai seorang profesional yang memiliki pandangan jelas tentang sinema dan memahami sejarah perfilman."
Pada kesempatan itu, Park juga menyampaikan keyakinannya bahwa politik dan seni tidak seharusnya dipisahkan.
Ia mengatakan, "Aneh jika politik dan seni dianggap sebagai dua konsep yang saling bertentangan." Ia menambahkan, "Hanya karena sebuah karya memuat pesan politik, bukan berarti karya itu menjadi musuh seni. Sebaliknya, film yang tidak memuat pesan politik pun tidak seharusnya disingkirkan."
Ia menegaskan, "Sekalipun memiliki pesan yang baik, jika tidak dicapai melalui pencapaian artistik yang unggul, maka itu tidak lebih dari propaganda."
Ia menambahkan, "Seni dan politik bukanlah konsep yang saling berlawanan. Jika disampaikan secara artistik dengan baik, maka hal itu layak didengar."
Film-film karya Park, termasuk Oldboy (2003), Thirst (2009), The Handmaiden (2016), dan Decision to Leave (2022) telah diundang dan meraih penghargaan di Festival Film Internasional Cannes.