Sampul edisi bahasa Inggris Kamus Budaya Halyu. (Lee Jeong Woo)
Penulis: Charles Audouin
"Oppa" (panggilan dari perempuan kepada laki-laki lebih tua), "dokkaebi" (makhluk supranatural yang muncul dalam cerita fiksi masyarakat Korea), "chimaek" (istilah yang berasal dari gabungan kata "chicken" dan "beers"), dan "mukbang" (siaran makan daring).
Kata-kata ini kerap ditemui dalam K-pop maupun drama Korea. Meski terdengar akrab di telinga, tidak mudah untuk sepenuhnya memahami makna yang tepat maupun konteks budaya di baliknya. Kini telah terbit sebuah kamus yang menjelaskan berbagai ungkapan tersebut agar dapat dipahami oleh mereka yang belum akrab dengan budaya Korea.
Museum Rakyat Nasional menerbitkan edisi bahasa Inggris Kamus Budaya Halyu yang menghimpun berbagai istilah dalam konten halyu pada tanggal 2 Februari 2026. Edisi bahasa Inggris ini merupakan kamus khusus halyu pertama dalam bahasa Inggris yang disusun berdasarkan edisi bahasa Korea yang diterbitkan pada tahun 2024.
Kamus tersebut memuat penjelasan konseptual yang terperinci untuk total 347 entri, serta dilengkapi lebih dari 600 materi visual guna membantu pemahaman pembaca. Lebih dari 130 peneliti dari dalam dan luar negeri turut berpartisipasi dalam proses penyusunannya, sehingga menjamin tingkat profesionalitas dan kredibilitasnya.
Kamus ini mencakup beragam bidang secara luas, mulai dari folklor dan kuliner hingga kehidupan sehari-hari dan budaya populer. Daftar isi dan entri disajikan dalam bahasa Inggris dan Hangeul secara berdampingan, sehingga pengguna dapat dengan mudah menelusuri baik melalui bahasa Inggris maupun bahasa Korea.
Untuk sejumlah entri, termasuk gimbap, tteokbokki, dan ramyeon, digunakan sistem romanisasi berdasarkan pelafalan bahasa Korea alih-alih terjemahan, sehingga nama asli dalam bahasa Korea tetap dipertahankan.
Daftar isi dalam bahasa Inggris dan bahasa Korea dari edisi bahasa Inggris Kamus Budaya Halyu. (Museum Rakyat Nasional)
Baek Min Young, Peneliti Senior di Museum Rakyat Nasional, mengatakan bahwa proyek ini bermula dari kegelisahan atas minimnya referensi yang secara sistematis mengulas makanan, tempat, maupun sapaan yang kerap muncul dalam konten Korea.
“Kami memulai pekerjaan ini karena adanya kebutuhan akan materi yang mampu menjelaskan berbagai unsur budaya dalam konten Korea secara terstruktur,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tim berfokus untuk menyampaikan budaya Korea dengan perspektif yang lebih akurat dan seimbang.
Kamus ini juga dapat dimanfaatkan sebagai panduan penjelas untuk menjawab berbagai rasa ingin tahu tentang budaya Korea. Baek menyatakan, "Kami tidak hanya menjelaskan arti kata, tetapi juga menyertakan nuansa budaya, konteks sosial, serta cara penggunaannya, sehingga pengguna yang baru pertama kali mengenal budaya Korea pun dapat memahaminya."
Sebagai contoh, entri "eungwonbong" (light stick) tidak sekadar dibahas sebagai barang merchandise, melainkan sebagai istilah yang menerangkan proses pembentukan dan makna budaya fandom di Korea. Pada entri "jwaseok" (duduk di lantai), kamus ini juga memperkenalkan sejarah serta latar belakang kebiasaan duduk di lantai dalam kehidupan masyarakat Korea.
Entri miyeokguk dalam edisi bahasa Inggris Kamus Budaya Halyu. (Lee Jeong Woo)
Bagian yang paling sulit dalam proses penyusunan adalah ungkapan-ungkapan yang sarat dengan nuansa khas Korea. Baek menyebutkan bahwa entri seperti "singgeopda" (hambar) dan "bap hanbeon meokja" (ayo makan bersama suatu saat) termasuk yang paling sulit untuk dijelaskan.
Ia menjelaskan, "Kata 'singgeopda' tidak hanya digunakan untuk menggambarkan rasa makanan yang hambar, tetapi juga dapat dipakai untuk menilai kepribadian atau sikap seseorang. Sementara itu, ungkapan 'bap hanbeon meokja' bisa berarti janji makan yang sungguh-sungguh, tetapi dalam konteks lain hanya merupakan sapaan untuk menjaga hubungan. Karena itu, tidak mudah menjelaskannya hanya melalui terjemahan harfiah."
Proses menjelaskan ungkapan yang berkaitan dengan makanan juga tidaklah mudah. Secara lahiriah, istilah-istilah tersebut tampak sekadar merujuk pada minuman beralkohol atau kegiatan makan bersama, tetapi dalam praktiknya kerap memuat budaya organisasi dan pola relasi antarmanusia yang khas Korea.
Baek menyatakan, "Kami tidak hanya menjelaskan makanannya, tetapi juga menguraikan kapan, dengan siapa, dan dalam suasana seperti apa kegiatan tersebut biasanya berlangsung."
Entri mukbang dalam edisi bahasa Inggris Kamus Budaya Halyu. (Museum Rakyat Nasional)
Kamus ini diperkirakan akan terus berkembang ke depannya, seiring dengan terus diproduksinya konten budaya seputar halyu.
Dengan munculnya karya-karya seperti KPop Demon Hunters maupun lagu "APT." yang dibawakan oleh Rosé dan Bruno Mars, yang memadukan unsur-unsur khas Korea dengan budaya global, isi kamus ini pun diperkirakan akan semakin diperluas dan diperbarui.
Kemungkinan untuk diperluas ke bahasa-bahasa lain juga terbuka. Namun, Baek menekankan bahwa penerjemahan bukan sekadar memindahkan bahasa, melainkan pekerjaan yang harus mempertimbangkan cara tiap budaya memahami suatu konsep serta lingkungan dan kebiasaan membaca di masing-masing wilayah, sehingga diperlukan kajian yang matang dan kehati-hatian.
Edisi bahasa Inggris Kamus Budaya Halyu dapat diunduh secara gratis dalam format PDF melalui situs ensiklopedia Korean Folk Encyclopedia. Publik juga dapat memperolehnya di toko suvenir Museum Rakyat Nasional.
caudouin@korea.kr